Di Tengah Gempuran Sound Horeg, DPRD Pati Minta Wayang Golek Kudur Diberi Ruang Hidup

PATI – Dominasi industri hiburan modern yang semakin masif di ruang publik pedesaan mulai menggeser eksistensi seni pertunjukan tradisional. Fenomena menjamurnya tren tontonan berbasis audio skala besar atau yang akrab disapa sound horeg kini jauh lebih menyedot animo generasi muda di berbagai sudut Kabupaten Pati.

Pergeseran selera estetika publik ini menjadi tantangan berat bagi kelangsungan kesenian seperti Wayang Golek Kudur yang kini hanya memiliki panggung pementasan setahun sekali saat momentum sedekah bumi desa. Minimnya frekuensi pementasan membuat penetrasi nilai edukasi seni tradisi ke kalangan milenial menjadi terhambat.

Menyikapi realitas sosial tersebut, Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Pati, Kastomo, membagikan pandangan objektifnya. Ia menilai perkembangan industri hiburan kekinian merupakan keniscayaan zaman yang tidak perlu dilarang, namun wajib diimbangi dengan perlindungan terhadap kesenian asli daerah.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal budaya modern, sementara kesenian asli daerah perlahan hilang karena kurang mendapat perhatian. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama antara DPRD dan Pemerintah Kabupaten Pati untuk menjaga identitas budaya daerah agar tetap lestari,” pungkasnya.

Kastomo menambahkan, pemerintah daerah harus piawai dalam menciptakan ruang kolaborasi. Langkah taktis seperti menampilkan seni tradisi sebagai pembuka acara pameran daerah atau festival budaya tahunan dinilai efektif untuk mendekatkan kembali wayang golek ke mata pemuda, sehingga warisan leluhur ini tetap memiliki relevansi yang kuat sebagai media tuntunan hidup.

(ADV)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *