Ali Badrudin Dorong Solusi Jangka Panjang Atasi Kendala Air Tambak Garam Batangan

PATI, mbjateng.com — Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, meminta persoalan terbatasnya pasokan air laut ke tambak garam di Kecamatan Batangan ditangani secara lebih menyeluruh. Menurutnya, solusi terhadap kendala tersebut perlu disiapkan untuk jangka panjang, bukan hanya mengandalkan kondisi pasang air laut.

Lebih dari 300 hektare tambak garam di wilayah Batangan dilaporkan belum dapat berproduksi secara optimal akibat rendahnya pasang. Kondisi tersebut membuat petani kesulitan mengisi petakan tambak dan harus menunggu air laut kembali naik.

Ali menilai situasi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, terutama karena persoalan serupa berpotensi kembali terjadi ketika memasuki musim kemarau.

“Kalau persoalan air ini berulang setiap musim kemarau, tentu harus dipikirkan solusi jangka panjang. Jangan hanya menunggu air pasang lalu produksi berjalan lagi,” ujar Ali.

Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memetakan seluruh infrastruktur pengairan yang menunjang kawasan tambak garam. Pemetaan diperlukan untuk mengetahui kondisi saluran serta jalur masuk air laut menuju lahan produksi.

Selain itu, pemerintah juga perlu mengidentifikasi titik-titik yang membutuhkan penanganan, termasuk saluran yang mengalami pendangkalan atau tidak lagi mampu mengalirkan air secara optimal.

“Harus dilihat secara menyeluruh. Mana saluran yang perlu dinormalisasi, mana yang membutuhkan perbaikan, semuanya harus dipetakan,” katanya.

Ali mengatakan keterbatasan pasokan air saat ini membuat sebagian petani berupaya menggunakan pompa secara mandiri untuk membantu mengalirkan air laut ke tambak. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan.

Bahkan, sejumlah petani disebut harus menghentikan kegiatan produksi hampir selama dua pekan karena kondisi pasang air laut yang sangat rendah.

Menurut Ali, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sektor garam merupakan salah satu aktivitas ekonomi yang menopang masyarakat di kawasan pesisir Batangan.

“Potensi tambak yang sudah ada harus dijaga. Jangan sampai lahannya ada, tetapi produksinya tidak maksimal karena persoalan akses air,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat menyusun penanganan berdasarkan hasil pemetaan dan kondisi lapangan. Dengan infrastruktur pengairan yang lebih memadai, aktivitas produksi garam di Batangan diharapkan dapat berlangsung lebih optimal dan tidak terus terganggu setiap kali kondisi pasang air laut rendah.

(ADV)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *