Harga Garam Capai Rp800 per Kg, Produksi Petani Batangan Terkendala Air Laut

PATI, mbjateng.com — Petani garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, belum dapat memaksimalkan produksi meski harga garam saat ini berada pada kisaran Rp780 hingga Rp800 per kilogram. Rendahnya pasang air laut membuat pasokan air ke sejumlah tambak tersendat.

Sekretaris Komisi B DPRD Pati, Mukit, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Di satu sisi, harga jual garam memberikan peluang pendapatan yang cukup baik, tetapi di sisi lain produksi justru tidak dapat berjalan optimal.

“Petani sekarang menghadapi persoalan yang berbeda. Harganya cukup bagus, tetapi bahan baku berupa air laut justru sulit masuk ke tambak,” kata Mukit.

Menurutnya, aktivitas produksi di sejumlah kawasan tambak Batangan bahkan dilaporkan berhenti hampir dua pekan. Kondisi itu terjadi karena ketinggian pasang air laut tidak mencukupi untuk mengalirkan air ke tambak.

Padahal, momentum harga garam yang relatif tinggi dapat menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan. Namun, kesempatan tersebut sulit dimanfaatkan apabila proses produksi tidak dapat berlangsung secara normal.

Mukit menjelaskan, air laut menjadi salah satu kebutuhan utama dalam tahapan awal produksi garam. Ketika pasang tidak cukup tinggi, petani akan kesulitan mengisi tambak dan proses produksi otomatis ikut tertunda.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap kondisi pasang, ia mendorong pemerintah daerah mengkaji kemungkinan penggunaan pompa di kawasan yang membutuhkan. Selain itu, kondisi saluran air laut menuju tambak juga perlu diperiksa dan dinormalisasi apabila terdapat hambatan.

“Jangan sampai ketika harga garam bagus, petani justru tidak bisa menghasilkan garam. Pemerintah harus mencari cara supaya persoalan air ini bisa diminimalkan,” ujarnya.

Mukit berharap kondisi pasang air laut segera kembali normal sehingga petani dapat kembali mengisi tambak dan melanjutkan proses produksi.

Menurutnya, apabila pasokan air kembali tersedia, petani masih memiliki kesempatan untuk mengejar produksi sekaligus memanfaatkan harga garam yang saat ini cukup baik.

“Petani tentu berharap air segera tersedia. Kalau produksi bisa kembali berjalan, mereka masih bisa mengejar produksi dan memanfaatkan harga yang sedang bagus,” pungkasnya.

(ADV)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *