Hardi Minta Distribusi MBG Pertimbangkan Jarak dan Kondisi Geografis

PATI, mbjateng.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, perlu dievaluasi agar layanan tidak hanya terpusat pada sekolah yang berada dekat dengan lokasi penyedia makanan.

Wakil Ketua I DPRD Pati, Hardi, mengatakan pemerataan program harus dilihat dari kemampuan distribusi menjangkau seluruh sekolah sasaran. Menurutnya, jumlah dapur yang telah beroperasi belum cukup menjadi indikator apabila masih terdapat sekolah yang belum memperoleh layanan.

“Kalau ada sekolah yang belum menerima MBG, kita jangan hanya melihat jumlah dapur yang sudah berjalan. Kita harus melihat jangkauan distribusinya sampai ke sekolah,” ujar Hardi.

Ia menilai kondisi geografis wilayah juga perlu diperhitungkan dalam menentukan pola pelayanan. Kecamatan Gunungwungkal berada di wilayah Pati bagian utara dan termasuk kawasan lereng Gunung Muria, sehingga karakteristik jarak dan akses antarwilayah perlu menjadi pertimbangan dalam distribusi.

Menurut Hardi, jarak tempuh dari dapur penyedia menuju sekolah dapat berpengaruh terhadap kelancaran pengiriman makanan. Karena itu, pemetaan wilayah layanan dinilai penting dilakukan sejak tahap perencanaan.

“Harus ada pemetaan radius layanan. Sekolah yang jauh jangan sampai menjadi yang terakhir mendapatkan program hanya karena persoalan jarak,” katanya.

Selain faktor jarak, ia meminta penyelenggara memperhitungkan kapasitas masing-masing dapur dengan jumlah sekolah dan penerima manfaat yang harus dilayani. Dengan perhitungan tersebut, beban distribusi di setiap wilayah dapat diketahui dan disesuaikan.

Hardi juga menekankan pentingnya komunikasi antara pelaksana MBG, pemerintah daerah dan DPRD. Menurutnya, koordinasi akan memudahkan penyelesaian persoalan ketika muncul keluhan dari sekolah maupun masyarakat.

“Koordinasi itu penting. Pemerintah daerah dan DPRD bisa membantu menunjukkan persoalan di lapangan, terutama ketika ada sekolah yang menyampaikan keluhan,” ujarnya.

Ia berharap evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap keberadaan dapur penyedia, tetapi mencakup keseluruhan rantai distribusi. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain kapasitas dapur, jumlah penerima, jarak pengiriman dan waktu tempuh makanan menuju sekolah.

Dengan evaluasi tersebut, Hardi berharap pelaksanaan MBG dapat berjalan lebih merata. Program tidak sekadar mengejar jumlah penerima, tetapi memastikan makanan bergizi benar-benar diterima oleh seluruh sekolah yang masuk sasaran.

(ADV)

Pos terkait