PATI, mbjateng.com – Potensi jeruk Pamelo di Kabupaten Pati dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, tidak hanya sebagai komoditas pertanian dan perdagangan. Pemanfaatan kawasan perkebunan sebagai destinasi agrowisata dinilai dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperluas pengenalan produk khas daerah.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati dari Fraksi PPP, Yassin Shodiq, mengatakan konsep wisata berbasis perkebunan dapat memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat maupun wisatawan. Pengunjung nantinya tidak hanya membeli buah, tetapi juga dapat melihat secara langsung aktivitas budidaya jeruk Pamelo.
“Pamelo jangan hanya dilihat sebagai produk pertanian. Ada potensi wisata yang bisa dikembangkan. Orang bisa datang ke kebun, melihat proses budidayanya dan menikmati buah langsung di lokasi,” ujar Yassin.
Menurutnya, pengembangan agrowisata juga berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Petani dapat dilibatkan dalam pengelolaan kawasan, sementara pelaku UMKM dapat mengambil peran melalui penjualan makanan, minuman maupun berbagai produk olahan berbahan dasar jeruk Pamelo.
Dengan pola tersebut, manfaat ekonomi diharapkan tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga dapat menciptakan aktivitas usaha bagi pedagang, pelaku UMKM dan sektor jasa di sekitar lokasi wisata.
“Kalau konsepnya berjalan, dampaknya bisa lebih luas. Bukan hanya petani yang mendapatkan keuntungan, tetapi masyarakat sekitar dan UMKM juga ikut merasakan perputaran ekonominya,” jelasnya.
Yassin menilai pengembangan wisata agro tetap membutuhkan perencanaan yang matang. Sejumlah aspek seperti akses menuju lokasi, fasilitas bagi pengunjung, kebersihan, keamanan serta penataan area usaha masyarakat perlu dipersiapkan sejak awal.
Selain itu, ia mendorong agar pengalaman wisata menjadi bagian utama dalam konsep yang ditawarkan. Pengunjung dapat diberi kesempatan untuk memetik buah, mengenal proses budidaya, memilih jeruk berkualitas hingga mencicipi berbagai olahan Pamelo.
“Dalam wisata agro yang ditawarkan bukan hanya buahnya, tetapi pengalaman yang didapat pengunjung. Kalau pengalamannya menarik, mereka akan punya alasan untuk datang kembali dan mengenalkan tempat tersebut kepada orang lain,” katanya.
Menurut Yassin, wisata berbasis jeruk Pamelo juga dapat berfungsi sebagai media promosi produk lokal. Wisatawan yang berkunjung dapat menjadi calon konsumen baru dan membawa pengenalan produk tersebut ke luar daerah.
Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Pati mulai mengidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dijadikan kawasan agrowisata jeruk Pamelo. Pemetaan tersebut dinilai penting untuk menentukan lokasi yang paling siap dikembangkan.
“Tidak harus langsung dibuat besar. Bisa dimulai dengan pemetaan potensi, kemudian melibatkan petani dan masyarakat. Setelah konsepnya jelas, pengembangannya bisa dilakukan secara bertahap,” pungkas Yassin.
(ADV)
